Dokumentasi Perhitungan Listrik & Tagihan

Cara sistem PZEM Monitoring menghitung data listrik periode dan tagihan PLN (selaras dengan rumus di aplikasi).

1. Alur data singkat

Sensor PZEM
MQTT
Database
Agregasi kWh
Kalkulator PLN
Laporan PDF

Tegangan, arus, daya, energi, frekuensi, dan faktor daya diukur langsung oleh PZEM-004T. Sistem menyimpan riwayat, menghitung konsumsi periode, lalu menerapkan tarif PLN untuk tagihan.

2. Data listrik & daya 3 fasa

Nilai berikut diukur sensor (bukan dihitung ulang dari rumus lain):

Turunan per fasa

S = V × I (daya semu, VA) Q = S × sin(arccos(PF)) (daya reaktif, VAR)

Total 3 fasa (R + S + T)

P_tot = P_R + P_S + P_T S_tot = S_R + S_S + S_T PF_sistem = P_tot / S_tot (jika S_tot > 0)

Ketidakseimbangan beban (imbalance)

imbalance_% = (σ / μ) × 100

Dihitung dari standar deviasi (σ) dan rata-rata (μ) daya, arus, atau tegangan antar fasa.

3. Energi periode (kWh)

Untuk setiap perangkat di rentang waktu laporan, konsumsi dihitung dengan prioritas berikut (metode berikutnya dipakai hanya jika yang sebelumnya tidak valid):

  1. Delta energy counter (utama):
    E = max(energy) − min(energy)
    Dipakai jika E ≥ 0, E < 10.000 kWh, dan ada lebih dari satu sampel.
  2. Integral trapesium daya (cadangan):
    E_kWh = Σ ((P_t + P_t−1) / 2) × (Δt_detik / 3.600.000)
  3. Rata-rata daya × durasi (terakhir):
    E_kWh = AVG(P) × (t_max − t_min) / 3.600.000
Total untuk tagihan: jumlah energy_kwh semua perangkat dalam lokasi/periode (untuk 3 fasa: R + S + T). Nilai inilah yang masuk ke kalkulator PLN.

4. Tarif & tagihan PLN

Golongan yang didukung aplikasi:

Golongan Model Tarif Biaya tetap / RM
R1 Blok 0–900 kWh @ Rp 1.352
>900 kWh @ Rp 1.445
Abonemen Rp 11.000
R2 Blok 0–1.300 kWh @ Rp 1.352
>1.300 kWh @ Rp 1.445
Abonemen Rp 20.000
B2 (default) Flat + Rekening Minimum Rp 1.444,7 / kWh RM = 40 × kVA × 1.444,7
(kVA dari daya kontrak, default 53.000 VA)
I3 Flat Rp 1.699 / kWh Abonemen Rp 40.000

R1 / R2 (tarif blok)

E1 = min(E, ambang_blok1) E2 = max(0, E − ambang_blok1) Biaya_energi = E1 × tarif1 + E2 × tarif2 Subtotal = Biaya_energi + Abonemen PPN = Subtotal × 11% Total = Subtotal + PPN

B2 — Bisnis B-2/TR (flat + rekening minimum)

Biaya_energi = E × 1.444,7 kVA = daya_kontrak_VA / 1.000 RM = 40 × kVA × 1.444,7 Subtotal = max(Biaya_energi, RM) Total = Subtotal × (1 + PPN)

Jika konsumsi rendah, tagihan mengikuti Rekening Minimum, bukan hanya kWh terpakai.

I3 (flat + abonemen)

Subtotal = (E × 1.699) + 40.000 Total = Subtotal × (1 + PPN)
PPN default 11% (dapat diubah di pengaturan tarif). Golongan default sistem: B2.

5. Contoh angka

Contoh A — R1, konsumsi 1.200 kWh

Blok 1: 900 × 1.352 = Rp 1.216.800 Blok 2: 300 × 1.445 = Rp 433.500 Biaya energi = Rp 1.650.300 Subtotal = 1.650.300 + 11.000 = Rp 1.661.300 PPN 11% = Rp 182.743 Total tagihan = Rp 1.844.043

Contoh B — B2, daya kontrak 53.000 VA, konsumsi 1.000 kWh

Biaya energi = 1.000 × 1.444,7 = Rp 1.444.700 kVA = 53 RM = 40 × 53 × 1.444,7 = Rp 3.062.764 Subtotal = max(1.444.700, 3.062.764) = Rp 3.062.764 ← RM berlaku PPN 11% ≈ Rp 336.904 Total tagihan ≈ Rp 3.399.668

Contoh C — B2, daya kontrak 53.000 VA, konsumsi 3.000 kWh

Biaya energi = 3.000 × 1.444,7 = Rp 4.334.100 RM = Rp 3.062.764 Subtotal = max(4.334.100, 3.062.764) = Rp 4.334.100 ← energi di atas RM PPN 11% ≈ Rp 476.751 Total tagihan ≈ Rp 4.810.851

6. Di mana mengubah tarif

Golongan tarif, daya kontrak (untuk B2), dan PPN diatur di halaman Pengaturan Tarif PLN. Nilai disimpan di database dan langsung dipakai saat generate laporan PDF serta simulasi hitung di halaman tersebut.

Buka Pengaturan Tarif PLN